Jumat, 29 Januari 2010

SECANGKIR MUSIK KLASIK

Jam 8 malam, ku susuri jalanan yang gelap dan sunyi, untuk yang kedua kalinya di sebuah rumah mungil bergaya Eropa itu dan beberapa pohon semak bertengger di depannya, alunan musik piano klasik terdengar lembut, Couleur Tendresse tampak membelah malam. Tersentak aku seketika, setelah beberapa detik kembali tersadar dan melanjutkan langkah kakiku. Pasti seseorang yang berbakat dan lihailah yang sedang memainkannya. Tak ingin lebih lama memikirkannya, semenit kemudian aku tiba di depan rumah sewaan yang kurang dari 1 minggu ini kutempati. sambil mengeluarkan roti dan makanan-makanan ringan yang baru ku beli dari salah satu toko di ujung jalan, Lena, my housemate, memanggilku ke ruang tv,
"nis, acara masak di chanel Indonesia mau mulai tuh",
kami beruntung saluran tv di rumah kami sangat lengakap dan memjangkau seluruh dunia, acara yang di pandu Pak Bondan itulah acara yang dapat mengobati kerinduan kami pada masakan Indonesia, walaupun sesekali juga ada masakan Eropa. Dengan kata "ma'nyuss" yang dilontarkan sang pemandu acara kadang menggelitik kuping kami dan tak jarang kami mulai tertawa.

Aku dan Putri melanjutkan study magister kami di Inggris. Setelah wisuda strata 1, kami tidak mau menunggu berlama-lama dan langsung mengurus segala tetek bengek pendukung keberangkatan kami. Surat-surat sudah selesai diurus, dan kami pun segera terbang ke negeri Ratu Elizabeth tersebut. Musim dingin yang kami tunggu-tunggu, salju yang tampak mengasikkan khayalan telah turun sejak 2 minggu yang lalu. Baju hangat dan minuman jahe dari mama telah kami siapkan, winter! i'm coming!. Itulah kesenangan pertama yang menghiasi hati kami semenjak menginjakkan kaki di London. Tak ada kelas untuk musim dingin kali ini, memberikan ruang untuk hasrat shopping kami dan tentu saja untuk berwisata kuliner.
Rasa penasaran akan pianis misterius itu masih menghinggapi otakku. Diam-diam setelah ritual jalan-jalanku bersama Lena, aku mampir sebentar ke rumah yang sering menghadirkan alunan musik klasik itu. Siang itu, tak terdengar setitikpun suara dan aktivitas yang tampak dari dalam rumah, otakku berpikir, ah mungkin sang penghuni sedang pergi jalan-jalan. Kupalingkan badanku dari trotoar depan rumah itu lalu beranjak menuju 'tempat penampunganku'.
Sampai di rumah "lu kemana aja nis? gua mampir di toko majalah, elu malah ngilang" Lena tampak khawatir, maklumlah kami orang baru di daerah ini, bisa saja kemungkinan tersesat atau di culik menimpa kami.

Aku memang bukanlah orang yang berkecimpung di dunia musik klasik, tapi beberapa lagu klasik sedikit nempel di kepalaku, itu berkat hadiah cd yang diberikan sahabatku Randy saat ulang tahunku yang ke-16, maklum ia sedikit melankolis.
"tuh cd klasik bagus buat jiwa lo, kalo lu lagi rusak, mungkin lagu-lagu dari cd itu bisa ngobatin lu" lontar Randy diiringi gelagak tawanya yang renyah dan kadang membuatku rindu dengannya. Merasa tak terima
"sialan lu! lu kira gua udah stres apa?!" sahutku dengan nada kesal. Dan sekarang, musik klasik menjadi salah satu favoritku selain musik pop dan jazz, walaupun aku sama sekali tidak bisa memainkan instrumen klasik seperti piano, biola dan saudara-saudaranya. Musik klasik memang bisa menenangkan jiwa, hati dan pikiran.
3 minggu kemudian, atribut Natal sudah dilepaskan, tahun baru mulai disongsong dan universitas-universitas telah membuka kelas-kelas khusus. Aku memutuskan untuk mengambil kelas sastra. Kegilaanku pada penulis seperti Shakespeare membuatku tertarik pada bidang ini. Lebih dari 1 minggu keberadaan kami di sini rasanya sudah cukup untuk mengasah English kami. Di universitas yang tersohor di penjuru dunia ini, aku bertemu dengan student dari berbagai bangsa, suku, ras, agama dan tentu saja kepribadian yang beragam. Sangat beruntung aku bertemu teman-teman yang ramah dan bersedia menolongku jika ada pelajaran yang tidak aku pahami, terlepas dari anggapan orang tentang kebudayaan barat yang cuek alias "elo elo, gue gue". Di sini penuh kehangatan dan kadang ada saja banyolan-banyolan lucu dari si pria British, John, dan menambah eratnya hubungan pertemanan kami.
Sore ini setelah pulang dari kuliah, aku kembali menapakkan kakiku di trotoar depan rumah penghasil musik klasik asli dari piano bukan dari mesin pemutar kaset. Kali ini terdengar alunan Nocturne ini E, yang seakan mengajak pendengarnya untuk berdansa dan menarikku ke depan pintu rumah itu. Tak lama aku berpikir, langsung ku ketuk pintu rumah bercat putih tulang itu. Keluarlah seorang nenek bermata sipit khas Asia
"maaf, ada yang bisa saya bantu ?"
"saya Anis, rumah saya di blok B"
Kemudian nenek itu mempersilahkan aku masuk dan kami mulai berbincang.
"saya sering lewat sini dan sering mendengar lagu-lagu klasik dari piano, andakah yang memainkannya ?"
"oh bukan, cucu saya yang memainkannya, dia memang sangat menyukai musik klasik dan piano"
Mereka adalah orang Jepang dan nama cucu nenek itu adalah Natsumi. Beberapa saat kemudian sang nenek menuju dapur dan membawakaanku segelas teh dan juga beberapa cookies.
"sejak umur 1 tahun Natsumi ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Orangtuanya adalah konsultan di negara Prancis dan mereka mendapat musibah kecelakaan saat pulang ke Jepang"
"mengapa anda dan cucu anda tidak tinggal di Jepang ?"
"saat berumur 7 tahun Natsumi melihat keindahan kota di Inggris dari buku-buku dan televisi lalu tertarik untuk tinggal di Inggris"
"bolehkah saya bertemu dan bercengkrama dengan Natsumi ?"
"tentu, silahkan, sudah lama Natsumi menantikan seorang teman"
Nenek lalu mengantarku ke ruang tengah, sebuah piano tersandar di bawah lukisan wanita Jepang dan sesosok gadis remaja kira-kira berumur 12 atau 13 tahun asyik membuka-buka kertas yang tampak lusuh dengan rentetan not balok dan garis nada.
"hai Natsumi" Natsumi hanya tersenyum simpul. Kusambangi kursi yang di dudukinya dan mulai ingin bercakap-cakap lagi.
"kamu terlihat sangat berbakat, berapa usiamu sekarang ?" Natsumi tidak menjawab dan hanya menggerak-gerakkan jarinya, seperti ada sebuah isyarat yang tersembunyi di baliknya. Lalu sang nenek langsung menjawab kebingunganku
"malang nasibnya, waktu bayi ia divonis memiliki kerusakan pada salah satu bagian otaknya yang mengakibatkan ia bisu, tapi saya akan dengan senang hati membantumu menerjemahkan isyarat-isyaratnya"
Lama aku bercakap-cakap, Natsumi memainkan Melodies of Life, soundtrack game terkenal di Jepang bahkan di Asia. Sempat aku mendegar lagu itu dari komputer kakakku. Kata sang nenek, Natsumi tidak mau bersekolah dan berinteraksi dengan orang-orang di luar rumah karena kekurangannya itu, tapi neneknya tidak pernah lelah mengantar Natsumi ke perpustakaan. Natsumi sangat gemar membaca dan tentu saja bermain musik. Darah seninya diturunkan oleh ibunya yang seorang pianis di kedutaanbesar Prancis. Natsumi adalah anak yang cerdas, guru pianonya tidak susah untuk mengajarinya, Natsumi cepat menangkap semua instruksi, bahkan kadang ia mulai menulis komposisi musik sederhana, menuangkannya ke dalam not-not balok, nenek dan guru piano Natsumi tentu sangat bangga dan sayang kepadanya. Waktu sudah hampir malam, adzan Magrib dari ponselku mulai berbunyi, lalu aku berpamitan dengan Natsumi dan neneknya.
Setelah pertemuanku dengan Natsumi sore itu, aku lebih sering mengunjunginya, tak jarang kubawakan ia oleh-oleh sebatang coklat yang harum dan lezat buatan tanah Italia yang kubeli di toko seberang restoran cepat saji asal negeri Paman Sam dekat rumah kami. Lebih sering pula aku mendengarkan alunan symfoni dari lincahnya jari-jari Natsumi. Kadang, jika aku mampir ke perpustakaan aku pinjamkan Natsumi buku-buku dan novel yang bagus.
Pagi ini, saat aku sedang tidak ada kelas seharian, kubawakan Natsumi buku Totto-Chan, ia sangat senang membacanya. Totto-Chan adalah salah satu buku favoritku, karena berkisah tentang perjuangan seorang guru yang mendirikan sebuah sekolah dasar di gerbong kereta yang sudah tidak terpakai dan kisah tentang kepolosan gadis kecil bernama Totto-Chan yang sangat bahagia dengan kelas gerbongnya dan kebiasaan-kebiasaan unik yang selalu dilakukan di sekolah. Hampir seharian Natsumi menyantap bukunya sambil duduk di kursi kayu dekat jendela yang menghadap ke kebun. Seharian pula aku berada di dapur bersama nenek yang mengajariku untuk memasak masakan Jepang dan Eropa. Senang rasanya bisa langsung diajari oleh mantan chef tanpa membayar. Bahan-bahan lengkap tersedia, setelah hidangan selesai kami menikmatinya bersama-sama sambil berbincang dan kadang sambil bercanda. Sebagai hadiah, nenek Natsumi memberiku oleh-oleh sekotak lumpia udang khas Jepang untuk kunikmati bersama Putri.
Tidak terasa 2 tahun sudah kulalui di negeri yang indah ini. Kebersamaanku bersama Natsumi pun hampir berakhir. Ujian sudah kujalani dan hasilnya akan keluar besok. Minggu depan aku akan berkemas-kemas untuk pulang kembali ke negara tercintaku, Indonesia. Sudah tak tahan lagi rasanya ingin menyantap soto ayam buatan mama, bakso bang Benu dan sate ayam di sampig jalan SMA ku dulu, rasanya hmmm tak tertandingkan!. Oleh-oleh untuk sanak saudara dan teman-teman sudah lengkap kubeli. Tak lupa titipan Randy, sebuah miniatur jam Big Ben sudah kubungkus rapi. Hangatnya secangkir lagu klasik dari piano harus ku tinggalkan, tapi bukan berarti aku tak lagi mendengar lagu-lagu klasik itu, cd dari Randy masih setia ku putar. Selamat tinggal Inggris, selamat tinggal salju yang lembut dan selamat tinggal Natsumi.

0 komentar:

Posting Komentar